Sekiranya masih memungkinkan, belanjalah di warung-warung tetangga

Sekiranya masih memungkinkan, belanjalah di warung-warung tetangga. Bukan pada gurita-gurita ritel yang sudah menjalar ke mana-mana (baca: mematikan warung-warung kecil).


Belanja di warung-warung tetangga? Buat apa?
- Mempererat silaturahim. Toh, kalau kita sakit atau meninggal, yang peduli dan mengurusi kita adalah tetangga. Bukan gurita itu.

- Saling memakmurkan. Kalaupun Rp200 lebih mahal, tetaplah membeli di warung-warung tetangga. Anggap saja membantu biaya sekolah dan les anaknya.

- Mengurangi dominasi kapitalis. Kita tidak anti dengan mereka. Tapi apa salahnya kalau kita lebih berpihak pada pemain kecil, apalagi kalau ternyata kita kenal baik dengan pemain kecil itu.

- Kadang lebih fleksibel. Anda bisa memesan barang tertentu. Anda juga bisa minta delivery ke rumah. Hebatnya lagi, Anda masih dibolehkan ngutang, hehehe.

Ini sangat penting. Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kitalah yang mematikan karena absennya keberpihakan kita.

Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, dan sejenisnya.

Sementara, uang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Syukur-syukur bisa mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?

Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar mereka membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu.

sumber : Ippho Santosa