Mari Dukung ”Gerakan Mari Belanja di Warung Tetangga”

Trend Gerakan Belanja di Warung Tetangga mulai viral, kesadaran untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat muncul. Tapi disisi lain juga para pengelola warung mulai menyadari bahwa berjualan di era ekonomi digital seperti sekarang ini tidak semudah dahulu. Pelayanan amat penting, dan pengetahuan berjualan menjadi tuntutan. Jangan  coba-coba menipu timbangan dan kualitas barang jika tidak mau ditinggal konsumennya. Mengapa banyak orang beralih ke supermarket dan hypermarket, bukan lantaran tidak pro pada warung tetangga, tetapi dari banyak pengalaman warung tetangga kadang lupa untuk berjualan dengan cara-cara yang dianjurkan dalam Islam. Bukan berarti supermarket dan hypermarket tidak melakukan pelanggaran. Belum lagi masalah harga, jadi gerakan warung tetangga ini harus juga disertai dengan pengembangan aspek jaringan produksi. Apakah sudah ada pemasok yang cukup untuk tiap produk sehingga satu produk tidak dikuasai dari hulu sampai hilir hanya oleh segelintir produsen saja, bahkan mungkin tanpa disadari hanya di pegang oleh satu perusahaan raksasa saja. 


Agar warung tetangga ini bisa mendapatkan harga yang rendah dengan margin yang cukup untuk mengembangkan usahanya dan meningkatkan taraf hidup keluarganya, sehingga dari warung tetangga ini akan mampu melahirkan sarjana-sarjana dan pengusaha-pengusaha baru. Maka pekerjaan rumah para Saudagar Muslim amatlah banyak. Sejauh yang saya ketahui, selama ini kita hanya “ berdagang “ atau “berjualan” artinya memindahkan satu barang ke tempat lain dengan memperoleh sedikit keuntungan sebagai hasil dari memindahkan barang. Jika barang yang dipilih adalah barang konsumtif sehari-hari yang juga banyak dijual warung lain, maka harga yang dapat diberikan pada konsumen adalah harga rata-rata, mekanisme per warungan akan mengawal harga ini, akibatnya tidak bisa mendapatkan untung yang besar. Intinya warung tetangga, tetap bergantung pada para produsen yang menetapkan harga jual grosir, produsen akan lebih senang jika produknya terserap lebih cepat di konsumen, sehingga tidak ada barang yang menumpuk di gudang. Karena itu penentuan harga ini menjadi penting. Warung tetangga, dengan modal yang terbatas, harus melalui beberapa jalur untuk mendapatkan produk. Ada jalur distributor, sub distributor, agen dan reseller. Jalur-jalur ini akan mempengaruhi harga yang sampai ditangan warung tetangga, dan mempengaruhi harga jualnya ke konsumen. 

Ada dua pekerjaan rumah kita, bagi para Saudagar Muslim, menjadi Distributor Besar yang bisa memasok hingga ke warung tetangga. Kedua, bagi Pengusaha Muslim mendirikan usaha-usaha sendiri yang memenuhi hajat hidup banyak orang. Nampaknya, kita musti memperbanyak Pengusaha Muslim, menjadi pemilik pabrik roti, pabrik tepung, pabrik gandum, pabrik plastik, pabrik kain, pabrik beras, pabrik minyak nabati pabrik tas, pabrik cemilan dan masih banyak lagi pabrik yang bisa kita bangun. 

Saya ingin kita memiliki KINCIR AIR REZEKI yang mengalir secara sunnatullah. Pernah lihat kincir airkan ? Kincir akan berputar mengambil air dari sungai kemudian dengan dorongan angin berputar dan memindahkan air atau mengalirkan air kembali kesungai yang kemudian mendorong air sungai mengalir lebih cepat. Saya ibaratkan Rezeki akan berputar dari kalangan kelas atas kepada kalangan kelas bawah dan mengalirkan rezeki hingga sampai ke pelosok. Jadi uang akan berputar tidak hanya di kalangan tertentu atau terbatas, melainkan terdistribusi dari atas ke bawah dan menyebar hingga ke pelosok. Jika Anda pernah pergi ke sawah yang ada kincir airnya, anda akan terharu melihat air mengalir di pematang sawah turun dengan deras dan membasahi sawah ladang. Rezeki tidak hanya berputar tetapi terbagi hingga merata ke semua orang. Dalam Islam jalur distribusi rezeki inilah yang harus kita perhatikan. 

Gerakan Belanja di Warung Tetangga, harus terus kita kawal dan bukan hanya sekedar trend. Jadikan rumah-rumah kita tempat yang produktif. Sebelum kita mampu membuat pabrik besar, buatlah makanan kecil, atau apa saja dan titipkan ke warung tetangga. Warung tetangga, akan mendapatkan variasi produk yang beragam, tanpa harus mengeluarkan modal besar, rezeki akan terdistribusi. Jika rezeki terdistribusi dengan baik, maka makin sedikit orang membutuhkan sedekah, karena mereka sudah mendapatkan distribusi rezekinya.
Gerakan Belanja ke Warung tetangga mari kita ikut dengan Gerakan Rumah Produktif