LELAKI PEJUANG oleh Dewa Eka Prayoga (True Story)

Saya menahan airmata ketika kemarin bertamu ke rumah Dewa Eka Prayoga di Bandung Timur, dia mencium tangan saya sebelum saya memeluknya. Badannya tampak kurus, dua bulan di rumah sakit menggerogoti badannya yang kekar, dari 84 kilo turun hingga 55 kilo ketika asupan makanan hanya bisa lewat selang yang dimasukkan lewat hidungnya masuk ke lambungnya. Ketika di seminar kemarin dia begitu lincah, berlari dan bicara lantang sambil menuliskan ilmu marketingnya dengan spidol besar di panggung. Sekarang badannya terkulai dalam masa pemulihan usai GBS menyerang tubuhnya, sistem kekebalan tubuh yang menyerang syarafnya hingga berhari-hari terkulai antara hidup dan mati di ICU, penyakit langka yang hanya menyerang 1 dari 40.000 orang setiap tahunnya. Dan kali ini pasti ALLAH punya skenario indah kenapa Dewa yang terpilih mengalaminya.

Lahir sebagai anak tunggal 21 April 1991, lalu menjadi anak yatim sejak umur 5 tahun, Dewa kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tidak ada ayah yang melindungi, Dewa kecil belajar tentang hidup dari orang-orang yang dia kenal di kampung asalnya Sukabumi. Sempat kuliah di UPI Bandung dan memulai berwirausaha sejak kuliah tahun pertama. Berbagai usaha dia tekuni dari kuliner, event organizer, pelatihan motivasi hingga bimbingan belajar.. dia mengajar di sana awalnya, sampai bimbel itu bisa dibelinya.

Sebuah tawaran bisnis investasi pengadaan komputer kantor menggiurkan, Dewa diajak rekannya untuk mencari investor, selama delapan bulan Dewa bisa menghimpun dana dari ratusan orang. Ketika uang yang disetor sudah mencapai 7,7 Milyar rekan bisnisnya tiba-tiba menghilang. Para investor langsung mengejar Dewa agar uangnya kembali. Berbagai ancaman dia terima sampai rumah ibunya di Sukabumi pun diancam dibakar. Namanya begitu tercemar dan jadi bahan omongan dari para tetangga, sampai ibunya mengadakan yasinan untuk mendoakan dan mengklarifikasi kejadian sesungguhnya kepada para tetangga.


"Saya ini juga korban mas, mereka gak mau tau karena nganggap saya yang memiliki investasi itu. Sejak itu saya bolak balik ke Polda Jabar sebagai saksi dan pelapor tentang kasus penipuan ini. Saya bisa membuktikan bahwa tidak ada aliran dana yang masuk ke rekening saya pribadi, semua dibawa kabur oleh mitra bisnis saya itu.." cerita Dewa beberapa waktu lalu.

"Berapa jumlahnya yang harus kamu tanggung?"

"Sekitar 7,7 Milyar mas.. saya pasang badan dan berjanji untuk mengembalikan uangnya kepada seluruh investor yang pernah saya ajak. Entah uang dari mana, tapi saya akan berusaha keras untuk mengembalikannya, walaupun tidak ada yang saya ambil.."

Gendeng! Gak sembarang orang mau mengambil resiko seperti itu, sudah ditipu dan menanggung malu malah sekarang menjadi tameng untuk si penipu..

Ketika awal 2016 lalu saya mampir ke kantornya, dewa menunjukkan catatan di HPnya, berapa sisa uang yang harus dia kembalikan. Tiap bulan dia sudah memiliki catatan nama-nama orang orang akan dikembalikan uangnya..

"Insya ALLAH 2018 saya bisa mengembalikan semua tanggungan saya mas, semoga ALLAH memampukannya.. "

Pasti pahiiit sekali mengalami itu, lebih dramatis lagi kejadian bangkrutnya itu hanya dua minggu usai dia menikah muda di usia 21 tahun, adalah Wiwin Supiyah teman kuliah dan dan teman kerja di bimbingan belajar yang dulu dia kelola terpilih menjadi istrinya. Setahun kemudian anak mereka lahir, ketika itu Dewa di titik terendah dalam usahanya, uang di dompet hanya tersisa 7000 saja, sampai para tetangga di kosnya berkomentar, "itu anaknya apa gak kasihan hanya tidur diatas kasur tipis di lantai, dingin atuuh!"

"Habis gimana lagi, memang kami gak punya uang lagi.. buat beli kasur saja kami tidak mampu"

Kuliahnya di UPI Bandung pun yang sudah semester 7 terpaksa tidak dilanjutkan karena ketiadaan biaya itu.

Pertemuan dengan pak Heppy Trenggono yang menyuntik semangatnya untuk bangkit, beliau juga pernah bangkrut dengan utang puluhan milyar namun bisa bangkit kembali.

Sahabatnya Mirza G. Indralaksana yang terus mendampinginya, tercetus ide untuk membuat buku berisi kisah dan pengalaman jatuh bangunnya dalam usaha. Lahirlah buku
"7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula" yang dijual dengan sistem pre order, dijual online tanpa lewat toko buku ternyata malah sambutannya luar biasa! Buku itu larisss! Saya dulu juga membelinya, buku itu yang menjadi jembatan saya mengenalnya. Buku itu menjadi pembuka jalan kebangkitan Dewa setelah buku pertamanya "7 Langkah Dashyat Menggenggam Masa Depan" tidak dapat respon bagus.



Dengan sistem jualan online dan reseller itulah, buku-buku tulisan Dewa meledak di pasaran, diburu oleh ribuan orang yang haus ilmu, testimoni masuk dari banyak orang ketika omzet mereka melejit setelah mempraktekkan ilmunya Dewa. Berikut ini beberapa buku yang sudah ditulisanya:
"Tembus Omset 100 Juta Modal BlackBerry"
"Dijamin Penghasilan 10 Juta Per Bulan"
"30 Hari Jago Jualan"
"Dongkrak Omzet Milyaran dengan Tim Penjualan"
"Easy Copywriting"
"Gara-Gara Facebook"
"Jago Jualan"

Di usianya yang ke 25 tahun dia sudah menulis 9 buku!! Wow!!

Dewa adalah pekerja keras! Bersama Mirza sebagai editornya buku-buku itu lahir. Mereka berdua pernah menginap di rumah saya di Jogja, dari pagi hingga malam mereka berdua sibuk mengedit buku yang akan terbit, hingga sarapan yang sudah disiapkan tertunda untuk dimakan. Istrinya pun bercerita kepada saya, ketika mengejar buku baru kadang Dewa hingga seminggu hanya di dalam kamar untuk fokus menulis. Semua ilmu dia tumpahkan dalam setiap ketikan, lelah tak terasa, sampai sakit itu menjadi alarm untuk tubuhnya..

Group Facebook: "Belajar Wirausaha Bareng Saptuari" yang sedang kamu ikuti inipun idenya dari Dewa. Dalam pertemuan berikutnya di warung saya di Jogja, dia berkata:
"Mas Saptu pasti punya banyak ilmu yang belum punya wadah untuk tempat sharing, kalau lewat twitter sudah gak efektif mas.. terpotong banyak tulisannya, coba mas pindah ke group facebook. Semua ide dan ilmu yang selama ini hanya ada di kepala tumpahin di sana, agar jadi ilmu yang bermanfaat untuk banyak orang. Sayang kalau hanya terpendam di kepala mas.."

Dari group inilah saya mengajak hijrah ribuan orang dari utang dan riba, sampai kemudian tulisan-tulisan saya menjadi buku "Kembali Ke Titik Nol" dan "Berani Jadi Taubaters" yang meledak tanpa saya duga. Saya bekerja sama dengan Billionare Store milik Dewa untuk menerbitkannya.. sudah 30.000 lebih buku itu tercetak dan dimiliki oleh para pembaca.

"Saya sudah ngalami Kembali Ke Titik Nol ini mas.. " kata Dewa dengan tersenyum, suaranya yang masih cedal terbata-bata, membuat kami yang ada di ruangan tamu itu tertawa. Tangannya masih juga tertatih-tatih ketika mengetik di HPnya..

Engkau pasti bisa bangkit lagi Wa!
Engkau masih dibutuhkan oleh banyak orang di luar sana, yang haus akan ilmu yang kau ajarkan!

Engkau adalah lelaki pejuang!
Yang tegarrr ditempa kerasnya kehidupan!
Bukan tidak mungkin kisahmu kelak akan jadi film penuh inspirasi untuk jutaan orang yang diputar di bioskop-bioskop terdepan..

Dalam kereta perjalanan saya kembali ke Jogja, saya membaca tulisan Dewa di channel telegramnya..
saya tertegun, inilah visi yang diajarkan Nabi yang sedang ingin Dewa capai dalam episode kehidupan berikutnya..
"Khairunnas anfauhum linnas"
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya..

Harta dunia hanya sementara..
tabungan untuk akherat itulah yang akan diperjuangkannya..

Selamat datang kembali Wa!!

@Saptuari

--------------------------------------------
Berikut ini adalah tulisan terbaru Dewa di Channel Telegramnya:

"Ya Allah, tugasku belum selesai..."

Suster dan dokter di ruangan ICU sangat panik melihat kondisiku yang masuk fase kritis. Keluarga dan sahabat2ku di luar ruangan hanya bisa menangis sembari berdoa untuk kesembuhanku. Sementara aku?

Ya, aku terlelap dan masuk ke dalam dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Penuh cahaya, udara segar, dan kembali muda.

Tapi aku 100% sadar, ini bukan duniaku. Lantas aku segera berdoa dengan penuh harap pada Allah ta'ala, "Ya Allah, tugasku belum selesai..."

Wajah anakku, istriku, keluargaku, dan sahabat2ku (bahkan jumlah member grup FB, yaitu 90.000+) tergambar jelas dalam pikiranku saat itu. Aku pun kembali memohon pada Allah,

"Ya Allah... Maafkan aku karena belum bisa jadi ayah yang baik untuk anakku. Maafkan aku karena belum bisa jadi suami yang baik untuk istriku. Maafkan aku belum bisa jadi anak yang baik untuk orangtuaku. Maafkan aku belum bisa jadi sahabat yang baik untuk kawan2ku. Maafkan aku belum bisa memberikan manfaat banyak untuk member grupku. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya ya Rabb..."

Doa yang kawan2 panjatkan seakan memberikan Saya energi dan kekuatan untuk melawan rasa sakit itu.

Dokter pun seolah merasakan pertolongan ya Allah hadirkan, "Pasien Saya ini kuat. Kalau yang lain, belum tentu selamat, bisa saja lewat (baca: meninggal)..."

Sampai saat ini, aku tidak tahu siapa yang mendoakanku. Tapi yang aku tahu, berkat doa kalianlah aku bisa kembali tersadar dan melewati masa kritis dengan baik.

Terimakasih banyak atas doanya selama ini...
Jazakumullah khoiron katsiron...

Jika bukan karena doa kalian, Saya tak mungkin bisa sekuat ini...

Alhamdulillah saat ini kondisi Saya 70% membaik.

Semoga bulan ke-3 nanti bisa pulih 100% dan bisa kembali beraktivitas seperti sedyakala... Aamiin...

Love u...

Dewa