Sikap Bijak Terhadap Para Guru Bisnis

source image : rumahentrepreneur.org
 Menjalankan bisnis memang seperti memasuki hutan belantara. Terkadang kita tidak tahu bagaimana harus menerobosnya. Seringnya, kita tidak memahami apa yang kita hadapi. Situasi ini membuat kita terdorong untuk berguru, mencari mentor atau memilih panutan.

Bisnis adalah sebuah proses multidisiplin. Ketika kita menjalankan bisnis dengan benar, sebenarnya kita dituntut untuk mengetahui banyak hal. Walau tidak perlu mendalam, namun setidaknya kita memahaminya. Ini juga yang membuat kita butuh Guru.

Pengalaman Saya di KeKe Grup juga demikian. Menjalankan bisnis fashion ini, kami dituntut untuk mengetahui ilmu produksi, supply-chain, marketing, distribution, warehouse management system, people management, digital approach, design grafis, pattern mode, finance, tax bahkan sampai masalah legal.

Begitulah bisnis, kita dipaksa belajar terus menerus. Inilah yang menyebabkan kita membutuhkan Guru dalam perjalanan bisnis kita.

*****

Di lapangan, saya menemukan fenomena yang tidak pas. Saya melihat ada sikap yang tidak bijak terhadap para Guru bisnis. Inilah yang mendorong Saya untuk menulis hal ini.

Menurut Saya, ada beberapa type Guru Bisnis, yang masing - masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut hasil kategorisasi yang Saya lakukan.

1. Guru Bisnis yang memang berpengalaman menjalan bisnis yang riil.

Di dunia edukasi bisnis, sering kita mendengar kalimat, "belajarlah pada yang memang pengalaman". Ada benarnya, namun tetap ada kurang dan lebihnya.

Guru bisnis yang memiliki pengalaman bisnis riil, memang akan lebih memiliki kedalaman dalam menyelami perasaan muridnya. Beliau memahami apa yang Anda rasakan, karena memang beliau juga menjalani hal yang sama. Suahnya cari klien, beratnya beban finansial, hingga masalah-masalah bisnis keseharian.

Sosok yang pernah menjalankan bisnis ini, cocok dijadikan mentor dalam hal penguatan mental dan wejangan-wejangan kebijaksanaan. Karena mereka menjalani. Tips-tips juga terkadang ampuh. Karena mereka relatif berpengalaman.

Namun ada hal yang tidak disadari oleh para murid. Sosok Guru yang menjalankan bisnis riil, relatif sudah sangat terikat dengan bisnis model yang beliau jalankan.

Misalnya Guru bisnis kita adalah pengusaha sawit. Sawit adalah komoditas, tugas pengusaha sawit adalah bagaimana sukses menanam sawit hingga produktif dan kemudian memastikan supply ke market. Bisnis modelnya sangat menitik beratkan ke proses bagaimana menghadirkan lahan sawit yang produktif. Uratnya produksi. Sedangkan proses penjualannya sudah otomatis. Pasarnya terbuka lebar. Ini dulu ya, waktu harga sawit bagus. Hehehhe...

Jadi kalo Anda tanya gimana packaging, ya beliau puyeng juga. Kecuali jika beliau jual produk turunan sawit, misalkan minyak goreng, mungkin beliau akan faham tentang packaging.

Sehingga, Anda yang bisnis kuliner jangan sewot sama Guru Anda dengan mengatakan : "gak ngefek ah belajar ama si Guru ini, gak nyambung ngajarinnya, ngomongnya triliunan, ketinggian"

Loh, itu bukan beliau salah brosist, kitanya yang gak bisa menempatkan diri.

Begitu juga nanti jika Anda berguru dengan Guru Bisnis yang gerak di peternakan, akan berbeda lagi. Lalu ketemu Guru bisnis yang gerak di fashion, bahasa dan believe nya bisa berbeda lagi.

Believe peternak adalah menghasilkan ternak yang sehat dan berkualitas, supaya market mau beli. Believe di fashion bisa kebalikannya, yang penting persepsinya harus sip, produk nomor 2. Maka dari itu, di bisnis fashion, baju yang awalnya gak laku, bisa kembali laku keras dengan pemotretan ulang. Aneh kan? Ya itulah beda bisnis model. Tergantung Anda belajarnya sama siapa

Oke, faham ya? Jadi kalo Anda berguru sama yang memang bisnis beneran. Anda harus siap bertemu dengan logika bisnis yang ia fahami. Sesuai bisnis yang ia geluti.

By the way, guru type ini jarangnya minta ampun. Kebanyakan yang bisnisnya bener-bener jalan, jarang turun gunung. Bukan berarti yang turun gunung itu abal abal ya? Hehehehe... tapi sepengalaman saya begitu.

Mereka kadang suka becanda pedas juga : "ngapain ngurusin didik UKM, susah benernya, mending fokus ngejalanin bisnis sendiri aja lah, capek".. ini riil lho.. saya denger langsung. Hehehe..

Makanya, kalo ada pebisnis riil yang mau mendidik, ya harus bener-bener dihargai, jangan malah di komen negatif.

2. Guru Bisnis yang memiliki kepakaran.

Sering ada kalimat : "belajar bisnis itu jangan sama orang yang gak punya bisnis". Menurut Saya, orang yang ngomong begini bener-bener gak tau apa itu bisnis.

Di lapangan, saya belajar manajemen toko ritel dari mantan profesional ritel multinasional. Dia gak pernah punya toko ritel, tapi ilmunya sadis. Inilah namanya kepakaran.

Saya juga belajar tentang perpajakan, yang mana pajak bagian dari proses bisnis. Lagi lagi, saya belajar perpajakan dari sosok yang gak pernah punya bisnis.

Saya juga belajar tentang membangun brand, kepada konsultan brand, yang memang dari mudanya ya menjadi konsultan brand. Kepakarannya memang disana.

Jadi ada guru bisnis yang bahkan kepakarannya adalah "ngajarin orang bisnis". Ya menurut Saya fair-fair aja, selama apa yang dia ajarkan punya dampak positif kepada bisnis Anda.

Sebutlah satu atau dua lembaga business coach. Suka atau tidak suka, mereka telah mendidik banyak pebisnis untuk merapikan sistem perusahaannya, bertumbuh, keluar dari masalah, ya menurut Saya oke lah.

Dosen pemboran Saya dulu di kampus, ternyata gak pernah ngebor, tetapi hampir semua masalah pemboran di negeri ini, selalu merujuk dan bertanya ke beliau. Pakar sekali. Dahsyat.

Jadi, saya terkadang sedih juga sama temen-temen UKM yang mencibir Guru Bisnis di type kedua ini. Memang mereka tidak pernah berbisbis riil, namun kepakaran mereka sangatlah kita butuhkan. Toh juga perdagangan jasa kepakaran yang mereka lakukan juga sebuah bisnis jasa toh?

Maka, jangan bertanya dan berharap mereka bisa menuntun bisnis Anda secara menyeluruh, karena memang kepakarannya berbeda. Jika butuh mentor yang deep secara emosi, pilih tipe 1. Menurut Saya lebih tepat.

3. Guru Bisnis yang "kosong" sama sekali

Saya gak menutup fakta bahwa ada sebagian kecil sosok "figur" yang entah bagaimana, dengan kepercayaan diri yang tinggi, tanpa kepakaran, tanpa pengalaman, hadir menggurui.

Untuk tipe yang ketiga ini, Anda jangan sampai meremehkan, atau mencemooh, karena, andaikata pun mereka "kosong" hari ini, kita tidak pernah tahu, bagaimana pertumbuhan mereka kedepannya. Ambil saja yang baik-baik dari mereka saat ini, dan marilah bersabar atas kekurangannya hari ini.

9 tahun yang lalu, saya pernah satu panggung dengan seorang pembicara muda. Ya Allah, isi seminar copy paste gurunya. Dari bicaranya, saya tau betul ini orang gak faham apa yang diomongkan. Tapi sekarang saya bertemu dengan dia, udah bumi dan langit deh. Beliau bertumbuh luar biasa. Saya salut. Dan saya belajar dari sikap saya 9 tahun yang lalu. Mohon para ziders jangan ulangi kesalahan Saya.

*****

Tulisan ini mengajak para Ziders untuk bersikap bijak kepada semua guru bisnis yang ada. Mari banyak-banyak sangka baik, dan mengambil yang baik-baik. Dan bersabar atas kekurangan, tanpa mencela bahkan mendengki.

Ada Guru yang memang benar-benar faham bisnis dan turun ke lapangan mendidik UKM. Ada Guru yang turun ke lapangan, padahal istrinya yang menjalankan bisnisnya, beliau figur yang dipublish saja. Ya tetap kita bisa belajar dari inspirasi keluarganya kan?

Ada yang pakar di satu bidang, dan lemah dibidang yang lain. Ya Anda harus bersabar. Bukan mencemooh.

Dan yang terakhir, ada yang bener-bener gak jelas juntrungan topik edukasinya. Ya Anda bersabar saja, tetap bersahabat dengannya, kita gak tau ujungnya seperti apa. menambah network gak papa kan?

Prinsip yang kita harus pegang sebagai Ziders sejati adalah... bahwa ilmu itu bisa datang dari siapa saja. Selama ilmu tersebut mampu mendatangkan dampak baik bagi bisnis kita, kenapa tidak?

Jika ada hal yang Anda tidak sepakat dengan Sang Guru Bisnis, silakan berdiskusi, jika mentok, silakan mundur teratur dari padepokan. Hehehe...

Semoga Para Ziders bertemu dengan banyak Guru yang benar, lurus, dan mampu membawa Ziders menuju kebaikan.

*****

Like mu adalah apresiasimu...
Komenmu adalah tanda cintamu...
Sharemu adalah kebahagiaanku...

source Group FB ini : Zid Club - https://web.facebook.com/groups/185218565167664

Rendy Saputra
CEO KeKe Group